Subscribe:

Ads 468x60px

Radio Che Pandu


Senin, 18 Juni 2012

Memantapkan Iman Dan Takwa (Hikmah Rajab)






HIKMAH ISRA’ MI’RAJ: Memantapkan Iman Dan Takwa


Rajab identik sekali dengan (peringatan) Isra’ Mi’raj-nya Nabi Besar Muhammad SAW, dan ini perlu diimani serta diyakini akan kejadiannya dan sejarahnya adalah benar-benar ada dan bukan isapan jempol belaka. Dan biasanya yang paling banyak menjadi bahan ceramah para muballig adalah masalah sholat. Hal ini tentu bisa diterima, sebab berdasarkan sejarahnya, maka dalam peristiwa Isra-Mi’raj itulah Rasulullah SAW menerima perintah sholat untuk diteruskan kepada dan dilaksanakan oleh umat.

Dengan alasan begitu dan mencermati keadaan yang ada, khususnya situasi dan kondisi yang ada sekarang ini, alangkah baiknya jika kita membicarakan, mengambil hikmah dan pelajaran tentang pemantapan yang menjurus ke mantapnya iman serta takwa dari peristiwa Isra’dan Mi’raj. Mengecualikan dari banyak catatan yang ada mengulas dan membahas peristiwa amat penting ini, yang awalnya bisa digali dari perintah sholat itu sendiri. Biarpun hanya seputar masalah sejarah, hukum dan beberapa keutamaan sholat yang kesemuanya itu, kudu disampaikan walau pun pahit dirasakannya, selebihnya bagaimana ummat menerimanya dan mengaplikasikannya.

Tengok dan simaklah keadaan kita saat ini, disekeliling kita waktu ini, sebahagian besar kaum Muslimin, khususnya di negeri yang kita cintai ini. Alhamdulillah, banyak di antara kita yang sudah mendirikan sholat, sudah menunaikan haji (bahkan beberapa kali, belum lagi khusus umrohnya), membayar zakat, bersedekah serta mengamalkan berbagai amaliah lahiriah lainnya. Subhanallah telah dikaruniai taufiq mengamalkannya yang tadinya hanya ukur hidayah saja. Akan tetapi sebenarnya, bukan hanya sekedar itu saja, amaliah formal seremoni belaka. Namun perlu di tambahkan dan penting diperjuangkan sedalam-dalamnya takwa dan ketakwaan dari diri masing-masing.

Selepas dari itu, agaknya tidak sedikit pula yang beranggapan, bahwa dengan melakukan amaliah lahiriah yang diperintahkan itu dengan sebaik-baiknya, merasa sudah jadi orang yang beriman dan bertakwa dan akan mudah masuk ke dalam surga yang dijanjikan Allah SWT. Padahal amaliah lahiriah seperti sholat, haji, zakat, shodaqoh dan atau perintah ibadah lainnya itu, hanyalah merupakan sarana dan prasarana yang mengantarkan seseorang ke pintu surga, sedangkan kunci utamanya adalah keimanan dan ketakwaan, ikhlas yang murni dan bersih dari segala macam bentuk kekotoran. Kotor berarti ibadah kita telah tercampuri hal-hal yang harus di buang dan dihilangkan, sebagaimana sandang kita sering di bersihkan dari kotor, apalagi yang namanya sesuatu yang najis.

Maka dari itu agar kita dan jiwa kita berlaku takwa serta mengamalkannya, resapi ujaran baginda Rasulullah SAW. dan inilah yang sebenarnya yang menjadi inti dari apa yang disabdakan dalam sebuah hadist beliau:

“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya (disaat kematiannya) adalah Laa ilaha illallaah, maka dia akan masuk surga.” (HR.Thabrani)

Dan ini juga yang sebenarnya makna (tafsiran) inti dari firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Artinya: hendaklah kamu mati dalam keadaan bertauhid, bukan hanya sekadar mati sebagai orang Islam.

Kata Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: “Tauhid adalah pintu pertama untuk masuk Islam dan pintu terakhir untuk keluar dari dunia.” 

Bahkan dalam kaidah agama ada dikatakan: “Yang pertama kali dalam agama adalah “ma’rifatullah (bertauhid kepada Allah)”

Agar kita menjadi muslim yang mukmin berhati emas (berharga), hati putih, bersih dari kotor dan karat.

Akan tetapi, dengan mencermati tafsir dan pemahaman tadi, amat dan teramat sulit kita jumpai. Apa sebabnya. Sebab kita tiada mungkin mengetahui isi hati, keimanan seseorang dengan sebenarnya mengorek isi hati dan keimanannya secara batin, pasti bisa diketahuinya oleh yang lain hanya dengan lahirnya saja, dengan berperilaku dan beramal secara kasat mata dan kelihatan jiwa raganya mengamalkan tersebut tadi. Maka, jika seseorang sudah melaksanakan perintah tadi secara cukup sarat dan rukun, memenuhi keriteria ibadah dan ketentuan yang umum dalam perintah Ilahiah (amar taklifi), maka dia sudah "isqot 'uhdatil amri", lepas sudah kewajiban dia sebagai seorang hamba melaksanakan kewajibannya. Adapun urusan yang lain, seperti di terima dan tidaknya amaliah dia, itu bukan menjadi justifikasi manusia lagi, melainkan hak preogatif Ilahi semata, sebagaimana Baginda Nabi SAW. selalu berujar:

أمرت أن أحكم بالظواهر والله يتولي السرآئر

"UMIRTU AN AHKUMA BIDZ-DZAWAHIR WALLAHU YATAWALLAS SARA-IR"
Saya diperintahkan untuk memberikan (hukum) putusan dunianya saja, (sebenarnya) Allah yang menaggung akhiratnya"

Dengan kata lain bahwa urusan putusan dunia:

أن القضآء لا يحل حراما ولايحرم حلالا

"ANNAL QADHA-A LA YUHILLU HARAMAN WALA YUHRIMU HALALAN"
Amar putusan dunia tiada menghalalkan sesuatu yang haram menghalalkan sesuatu yang haram.

Segala putusan halal tetap akan diputuskan halal walau sebenarnya haram, sebaliknya amar putusan haram akan diputus haram walau sebenarnya halal. Seperti: sengketa dua orang yang mengaku memiliki rumah, keduanya masing-masing mengakui memiliki rumah, maka dengan keadaan yang begitu, hakim akan memutuskan bahwa rumah itu dipunyai kedua belah pihak, rumah dibelah dua, karena masing-masing mempunyai dakwaan yang kuat. Ini bila keduanya mempunyai saksi serta kedua saksi masing-masing bertolak belakang, dan ketika itu hakim akan merujuk pada yang mengisi rumah, maka akan diputuskan bahwa rumah itu kepunyaan dan milik dia pengisi rumah. Padahal yang asli pemilik rumah itu adalah yang pertama, dikarenakan yang pertama tiada kuat hujah, baik saksi (syahid) ataupun "milkul yadd" pemegang kendali rumah. Dan masih banyak contoh lain.

LALU APA KAITANNYA PERISTIWA ISRA DAN MI’RAJ-NYA RASULULLAH SAW DENGAN PEMANTAPAN IMAN DAN TAKWA? 

Bagi Baginda Nabi SAW sendiri sebenarnya tak ada masalah, sebab ada atau tidaknya peristiwa Isra dan Mi’raj yang beliau alami, sebagai hamba yang dipilih dan terpilih, dan memang sudah terpilih, beliau memang sudah dijadikan Allah sebagai hamba yang memiliki Tauhid yang sempurna. Maka Sebagai Nabi dan Rasul Allah, Baginda Nabi SAW tidak perlu diuji keyakinannya pada Maha Esa dan Maha Kuasanya Allah SWT. dalam segala hal, sekalipun beliau tidak pernah bertemu dengan Allah, menyaksikan kebenaran adanya surga dan neraka dan hal-hal ghaib lainnya, yang sebelumnya tidak pernah beliau lihat dengan mata kepala, kecuali hanya mengetahuinya melalui wahyu yang diturunkan Allah SWT. kepadanya. Hanya hati kita saja masih belum bersih, masih banyak kotoran dan karat menyelimuti, sehingga mata hati kita tiada menganalisa hal yang istimewa ini, yaitu peristiwa dibalik terjadinya isra dan mi'raj atau hikmah dibalik peristiwa itu.

Itulah sebabnya banyak yang menyebutkan dalam kisah ini, bahwa Isra dan Mi’rajnya beliau hanyalah sebagai hadiah atas ketaatannya kepada Allah SWT. dan sekaligus sebagai obat kesedihan atas wafatnya isterinya, Khadijah al-Kubro dan Abu Thalib, paman tercinta yang selama ini telah mengasuh dan banyak membela dakwah yang beliau sampaikan dari serangan dan gangguan orang-orang "kafir Quraisy". Tidak menganalisa apa yang terkandung didalam peristiwa amat penting ini.

Padahal, di sisi lain tentu saja apa yang beliau lihat dan yang diperlihatkan Allah SWT. dalam peristiwa tersebut, seperti keadaan surga dan segala macam kenikmatannya. Neraka dan segala macam siksaannya, serta hal-hal ghaib lainnya, akan memberikan nilai tambah bagi dakwah yang beliau sampaikan kepada umat, khususnya para sahabat dan orang-orang beriman yang mengikuti beliau. Dan dengan begitu, anjuran ketakwaan dalam keimanan akan menggaung tinggi di alam raya ini.

Maka jelaslah, bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj tersebut adalah lebih ditujukan dan dimaksudkan sebagai ujian keimanan dan keyakinan serta ketakwaan para sahabat dan orang-orang yang telah menyatakan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Bila mana kita melihat, seiring dengan perjalanan waktu, nilai-nilai iman dan takwa yang dimiliki umat Nabi SAW, kita miris melihatnya, betapa keimanan dan ketakwaan kita kian hari kian tergerus dan terkikis oleh kemajuan zaman dan kepentingan kita terhadap duniawi mengesampingkan urusan yang namanya ukhrawi, padahal kita tahu mana yang duniawi mana yang ukhrawi. Mana mungkin kita menyalahkan jaman, mana mungkin kita menyalahkan masa. Sedang dari itu, kita acuh tak acuh pada sesama. Sehingga pada akhirnya, keimanan dan ketakwaan yang dimiliki umat ini (kaum muslimin), hanyalah sebatas wacana harian belaka, hanya menjadi tutur pembicaraan sehari-hari yang padahal kudu diaplikasikan dalam gerak hidup prikehidupan, bahkan ibadah sekalipun. Acapkali kita melihat diri kita ini dalam ibadah yang dilakukan, punya latar belakang atau motivasi tertentu, tidak lagi “lillahi ta’ala”, maka kuranglah ketakwaan kita pada Ilahi bukan kurangnya aqidah atau tauhid.

Maka ketika demikian halnya, seyogyanya harus kita serahkan inti akhir dari amaliah kehidupan seseorang pada Yang Kuasa saja, Allah SWT. kita hanya boleh mengambil intisarinya saja, mengambil hikmah lahiriah semata-mata. Karena mengingat perkataan "lillahi ta'ala" adalah soal ikhlas beribadah bukan keimanan apalagi i'tiqad atau tauhid, ini hanya soalan "takwa". Adapun soal ketakwaan seseorang tiada ada paksaan harus sama semua, melainkan bertahap. Sebagaimana digaribawahi dalam ayat yang lainnya dan diambil sebagai ayat yang merefisi ayat (QS. Ali ‘Imran: 102) tadi.

فاتقوا الله مااستطعتم

Bertakwalah kalian semampu diri (takwa) kalian semuanya.

Akankah kita mengambil kalimat takwa itu secara harfiyyah semata? Dimana artinya takut ataukah secara hakiki dengan sebenarnya makna takwa atas definisi hukum, makna hakiki soalan takwa yang berarti; 

إمتثال الأوامر واجتناب النواهي

IMTISTALUL AWAMIR WAJTINABUN NAWAHI"
Melaksanakan perintah menjauhi larangan.

Takwa secara definitip ini yang seharusnya kita pegang serta diaplikasikan dalam kehidupan yang nyata. Jangan dikurangi sedikitpun walau hanya sebesar biji dzarrah. Namun lepas dari itu, keikut sertaan manusia selaku mengabdi dalam keriteria tampilan takwa, akan dijumpai banyak tingkatan dan levelnya. Takwa ulama tiadalah sama dengan takwa preman pasar walau sidia sering melakukan ibadah, takwa seorang suami tiada sama pula dengan takwanya seorang istri, begitu seterusnya dan sebenarnya hakikat ketakwaan diri masing-masing individu seseorang.

Kita tiada mungkin tahu mana takwa yang kudu kita jalankan, mengingat akan takwa itu relatif dalam levelnya dan tingkatannya serta derajatnya masing individu yang kesemuanya dijumpai banyak berlainan dan berbedaan. Akankah sama takwa kita dengan takwa Sayyidina 'Aly KWh. dimana beliau ibadah mahdhahnya seumpama sholat sudah tiada beliau ingat akan apa-apa yang disekelilingnya. Pernah suatu waktu beliau terkena panah pada betis waktu peperangan, namun para sahabat tiada tega mencabut panah itu, maka Sayyidina Abubakar As-siddiq RA. mengambil inisiatip untuk mencabut panah dari betis 'Aly ketika beliau shalat, anehnya panah tercabut dari betis dan beliau tak mengalami aduh sedikitpun. Apa takwa yang begini yang harus kita pegang?

Juga kala ditelusuri takwa Rasulullah SAW. akan jauh sekali dari kedapatan kita atas makna takwa yang telah kita ketahui. Padahal Baginda Nabi SAW. seorang yang telah dijamin Allah SWT. akan masuk surga dengan melalui keterangan Surat Al-Fath ayat 1:

إنا فتحنا لك فتحا مبينا ليغفر لك الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر ......ألأية

Tapi toh mengapa beliau shalat tengah malam lama berdiri hingga betisnya mengalami bengkak karena lama berdiri, kala itu ada teguran dari Allah SWT. dengan turun surat Thaha;

طـــه ما أنزلنا عليك لتشقي

Dan ketika para sahabat menginginkan penjelasan mengapa Rasul melakukan hal demikian, maka dengan enteng Rasul berkata:

أفلا أكون عبدا شكورا

Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang banyak bersyukur

Dan banyak lagi yang lainnya sebagai contoh untuk kita amalkan dari suri tauladan di jiwa Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah SAW menerangkan tentang azab kubur dan siksa neraka, banyak para sahabat yang gemetar, menangis ketakutan, seakan-akan mereka sudah merasakan azab itu sebelumnya. 

Ketika Rasulullah SAW meminta para sahabat menginfakkan harta benda mereka untuk fi sabilillah, maka mereka berlomba-lomba bersaing untuk menyerahkan harta sebanyak-banyaknya lillahi ta'ala. Adapun urusan pahala mereka serahkan pada Ilahi.

Ketika Rasulullah SAW bercerita tentang akan adanya pembalasan Allah SWT untuk sekecil apapun kejahatan yang dilakukan oleh manusia, maka banyak sahabat yang tersungkur jatuh pingsan, bahkan ada di antaranya yang ingin segera mati saja, takut-takut kalau panjang umur, makin banyak kesalahan dan dosa yang diperbuat, entah sengaja atau tidak, dan merekapun beristigfar, memohon ampunan tiap waktu atas segala dosa.

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, dalam soal ibadah kudu berlomba-lomba untuk ta’at dan menunjukkan sampai dimana kita sadar bahwa keimanan dan ketakwaan yang dimiliki hingga kelevel mana dan tingkatan keberapa.

Oleh karenanya dengan peringatan Isra dan Mi’raj tahun ini, mari kita kembali sejenak mengukur kadar dan nilai serta memantapkan kembali keimanan serta ketakwaan kita kepada Allah SWT, agar amal ibadah yang kita lakukan tidak sia-sia. Disamping membicarakan masalah-masalah ibadah lahiriah (tentunya juga tak bisa diabaikan begitu saja), sementara ruh ibadah itu sendiri (yakni iman dan takwa) penting kita upayakan untuk meningkatkannya.

Allahu a'lam.
Source: Incu Uyut dgn tambahan.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Thank's for you